Kamis, 10 November 2016

Pengorbanan vs memuliakan diri



Teks                 : Ester 5:1-14
Judul               : Pengorbanan vs Memuliakan Diri
Pendahuluan   :                                                               
Memberikan perbandingan mengenai kasih dan kesombongan.
Proposisi : sebagai orang Percaya, setiap pengorbanan kita harus dilaksanakan dengan kasih
Kalimat tanya: mengapa kita harus berkorban dengan kasih?
Kalimat peralihan: ada beberapa bagian penting yang akan kita pelajari bersama

Bagut:
1.      1. Bertindaklah dengan kasih
Tindakan orang akan memperlihatkan isi hatinya. Ester yang rela menanggung risiko kehilangan nyawa, kemudian mendapat perkenan Raja Ahasyweros. Lalu Ester mengundang Raja Ahasyweros dan Haman ke perjamuan yang dia adakaN. Namun Ester tidak segera mengajukan permohonannya, walau raja berjanji akan memenuhi permintaan Ester, apa pun itu. Mungkin Ester melihat bahwa saat itu bukan waktu yang tepat. Atau mungkin juga Ester sedang ingin membuat raja merasa nyaman dulu dan tidak merasa dipaksa. Sebab itu, Ester harus punya alasan tepat untuk menunda pengajuan permintaannya pada raja. Bila tidak, penundaan ini dapat saja mengakibatkan perasaan raja berubah, atau Haman mungkin saja bisa menengarai maksud Ester. Sampai saat itu Haman memang belum "mencium" hubungan antara Ester dan Mordekhai. Maka Ester mengundang raja dan Haman untuk kembali datang ke perjamuan pada hari berikut.
Berbeda dengan Ester yang bertindak karena kasih, Haman bertindak karena terlalu dikuasai nafsu. Kesuksesan yang telah dia raih, sesungguhnya telah membuat ia dapat memiliki segala sesuatu. Akan tetapi, penghargaan yang telah dianugerahkan raja kepada Haman terasa belum cukup bila Mordekhai belum menghormati dirinya. Hal itu membuat hatinya gelap. Sukacita atas anugerah raja lenyap bila melihat Mordekhai tidak mau bersujud dihadapannya. Tak heran bila ia bergembira ketika mendengar masukan dari istri dan sahabat-sahabatnya. Mereka menyuruh Haman untuk menggantung Mordekhai.
Hati yang dipenuhi dengan nafsu untuk memuliakan diri akan melahirkan kebencian yang tak masuk akal dan bersifat destruktif. Hasilnya: mengorbankan orang lain demi memenuhi hasrat diri. Sementara hati yang dipenuhi dengan kasih kepada sesama, menghasilkan tindakan yang rela mengorbankan diri demi hidup orang lain. Jenis hati yang bagaimana yang Anda miliki? Pada saat negara mengalami masa kritis, kita sering mendengar suatu pernyataan: "Perkembangan politik berubah setiap satu detik". Nuansa inilah yang melatarbelakangi kisah Ester yang dimulai dengan penegasan: "Pada hari yang ketiga". Inilah hari penentuan, siapa yang akan memenangkan peperangan, Ester yang menyelubungi dirinya, atau Haman dengan rencana terselubungnya.
Ester telah mempersiapkan suatu strategi yang cermat dan penuh risiko, yang bukan sekadar mempertaruhkan nyawanya sendiri tetapi juga nyawa semua orang sebangsanya. Ia menggunakan dan memaksimalkan kesempatan sekecil apa pun, berdandan secantik mungkin, dan tidak gegabah menyampaikan maksudnya (1,4,7-8). Namun di balik semuanya itu ada sesuatu yang terjadi, yang hanya dimungkinkan karena adanya tangan Tuhan yang bekerja serta memberikan kasih karunia. Ester melanggar peraturan dan seharusnya menerima hukuman mati, namun sebaliknya ia justru mendapat perkenan raja.

2.     2. Sadarlah bahwa Tuhan ada dibalik semuanya untuk menolong kita
Pada hari itu juga berkumpullah dalam satu pesta ketiga orang paling penting yang menentukan nasib banyak orang dalam kerajaan Persia: Ahasyweros, Ester, dan Haman. Haman dalam kesombongannya meninggikan dirinya sendiri sementara ia tidak menyadari perubahan yang terjadi. Ia bersama istri dan sahabat-sahabatnya merancangkan hal yang jahat bagi Mordekhai, namun ia tidak menyadari bahwa dirinya sedang masuk dalam perangkap yang dibuatnya sendiri. Tuhan tidak tinggal diam, Ia mengatur perubahan, Ia Raja di atas segala raja yang memberikan kasih karunia kepada Ester  umat kepunyaan-Nya dan jerat bagi Haman  musuh-Nya yang meninggikan diri.
Di tengah kecamuk politik Indonesia yang terus berubah, kita perlu mendukung orang Kristen yang duduk di pemerintahan agar berani menghadapi risiko serta melangkah dengan iman kepada Tuhan yang membuat perubahan. Kiranya mereka bersikap bijaksana, membuat strategi yang cermat dan tepat demi terwujudnya tujuan yang mulia.

Kesimpulan
Perubahan-perubahan apakah yang sedang terjadi dalam diri Anda? Apa yang menyebabkan perubahan itu, kasih karunia Tuhan atau kesalahan yang menjerat dan menumpulkan kepekaan Anda?datanglah pada Tuhan, dan temukan jawaban atas perubahan yang terjadi!
Raja dengan ramah menerima Ester dan Ester sebagai balasan mengundang raja dan Haman untuk menghadiri sebuah perjamuan pribadi. Pada saat perjamuan raja berjanji untuk memberikan apa saja yang diminta oleh Ester; dan Ester meminta agar mereka berdua berkenan untuk hadir di dalam perjamuan pribadi yang kedua keesokan harinya. Haman sangat senang dengan undangan istimewa tersebut namun masih jengkel dengan penolakan Mordekhai untuk berlutut di hadapan dirinya. Istri dan para sahabat Haman mengusulkan agar Haman memohon izin dari raja untuk menggantung Mordekhai pada tiang yang telah disiapkan olehnya.

Senin, 07 November 2016

Alamat palsu (bahan P A untuk Kaum Muda Remaja)

Nama                           : Derti Afriana Benu
Judul                           : Alamat Palsu
Konteks bacaan           : Matius 7:7-8

Pengantar                    : sebenarnya doa itu apa sih? Mengapa kita harus berdoa? Apakah di zaman sekarang kita masih harus berdoa? Pentingnya apa sih? Banyak kita berpikir bahwa untuk mendapatkan sesuatu maka kita harus bekerja bukan dengan berdoa, berpikir bahwa untuk mendapatkan motor, handpfhone, pacar, rumah dan apa saja itu tidak bisa didapatkan dari doa tetapi semuanya itu didapatkan dari bekerja, mengumpulkan banyak uang dan membeli itu semua, gampangkan???? Nggak perlu berdoa sampai capek, nangis-nangis dan sebagainya. Cukup kerja keras, mengumpulkan banyak uang dan membeli semuanya itu. Tetapi firman Tuhan mengajarkan kita untuk berdoa, hari gini disuruh berdoa??? sorry gw sibuk guys….. kalaupun kita mau berdoa, kita pasti ragu soalnya dari dulu kita thu terus berdoa tapi nggak pernah ada satu doa pun yang terjawab. Malahan saat kita bekerja dan mengumpulkan banyak uang barulah kita dapatin semua yang kita pengen. Tapi sekali lagi firman Tuhan mengajarkan kita untuk berdoa.

Pertanyaan                  :
1.      Mengapa kita harus berdoa? Dan apakah sampai sekarang kita harus berdoa? Sedangkan jelas-jelas bahwa kita dapatkan semua yang kita pengen itu dari bekerja bukan dari doa.
2.      Kenapa sih kok dari dulu aku berdoa tapi nggak pernah dijawab-jawab sama Tuhan, apakah aku salah berdoa?

Jawaban                      :
1.      Kita harus berdoa karena Firman Tuhan berkata berdoalah senantiasa. Sampai sekarang kita masih harus berdoa. Walaupun jelas-jelas bahwa saat kita berdoa, seolah-olah kita tidak melihat hasil dari doa tersebut, dan memang kenyataannya bahwa untuk memperoleh segala seuatu yang kita inginkan, orang dunia mengatakan bukan karena doa tapi karena bakerja namun kita perlu menyadari bahwa semua yang kita dapatkan itu adalah hasil dari doa baik itu doa yang kita sendiri doakan ataupun doa yang dinaikan orang lain untuk kita. Ex kita pernah berdoa untuk dapat kerjaan akhirnya kita dapat, dll sebagainya.
2.      Jikalau kita belum dapat jawaban doa maka ada kemungkinan beberapa hal. Kita dapat melihat ini dari dua sisi. Jika dilihat dari sisi Tuhan maka ada tiga jawaban doa yang seringkali ada jikalau kita berdoa yaitu yang pertama, “Ya”, jawaban ya kita peroleh jikalau sesuatu yang kita doakan itu sudah harus kita dapatkan, dalam artian bahwa kita dapatkan itu karena Tuhan tahu bahwa yang kita minta itu sudah kita butuhkan, atau dengan kata lain sudah waktunya untuk kita dapatkan. Jawaban doa yang kedua yaitu jawaban “tunggu dulu” jikalau kita mendapatkan jawaban doa yang demikian maka itu bukan karena Tuhan tidak mendengarkan doa kita tetapi belum waktunya untuk Tuhan menjawab, mungkin yang kita minta belum menjadi kebutuhan kita tetapi masih merupakan keinginan kita saja. Jawaban doa yang ketiga yaitu “tidak” ini adalah jawaban doa yang sering kita bilang “kok aku berdoa terus sama Tuhan tap kok nggak pernah dijawab sama Tuhan ea uudah lama banget akhirnya aku jadi malas berdoa”. Dengan memperoleh jawaban doa yang seperti ini kebanyakan kita berkata bahwa Tuhan “jahat, tidak baik” dan lain sebagainya namun jawaban doa ini perlu kita pahami bahwa apa yang kita minta itu bukan yang kita butuhkan tapi itu keinginan atau kita salah meminta. Misalnya kita diajak oleh teman untuk pergi ke pusat perbelanjaan untuk membali sendal sebagai gantinya sendal kita yang udah rusak, ketika di sana kita malah tidak melihat atau memilih sendal namun kita memilih tas yang sebenarnya kita sudah punya 3 di rumah, nah berarti yang kita lakukan adalah kita memenuhi keinginan kita bukan kebutuhan kita. Itulah yang terkadang kita lakukan sehingga membuat Tuhan berkata tidak atas doa yang kita naikan. Kemudian jikalau dilihat dari sisi kita (yang menaikan doa) ada kemungkinan kita tidak yakin dengan apa yang kita doakan, ex: minta mujizat kesembuhan tapi ragu sama Tuhan apakah benar saya akan mengalami kesembuhan atau tidak, kemungkinan juga masih ada sesuatu yg belum beres di dalam hati kita dengan orang lain atau bahkan ada dosa yang tersembunyi yang masih kita lakukan sebagai kebiasaan berdosa.




Ibadah dalam Perjanjian Lama (materi Seminar)

Pendahuluan
Pemahaman mengenai ibadah, setiap orang memiliki konsep masing-masing mengenai hal ini ada orang yang memiliki pemahaman bahwa ibadah adalah seberapa banyak seseorang melakukan praktek keagamaa setiap harinya, ada juga yang mengatakan bahwa ibadah adalah datang meluangkan waktu dan ruangan bagi kegiatan-kegiatan rohani, bahkan ada yang mengatakan ibadah adalah melakukan kebaikan dan lain sebagainya. Namun yang perlu dipahami adalah ibadah bukan hanya sekedar itu, tuntutan ibadah lebih dari sekedar tindakan-tindakan tersebut.
Dalam KBBI ibadah adalah perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah yang didasari ketaatan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, dapat juga diartikan sebagai segala usaha lahir dan batin sesuai dengan perintah Tuhan untuk mendapatkan kebahagiaan dan keseimbangan hidup, baik untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat, maupun terhadap alam semesta. Kata ini juga dapat diartikan sebagai upacara keagamaan.[1]  Sedangkan dalam Kamus Salim’s Ninth Collegiate English-Indonesia Dictionary  kata ini adalah “Worship” the Worship of God yang berarti pemujaan kepada Tuhan.[2]  Namun penulis melanjutkan dengan kalimat: masing-masing Agama menyembah dengan caranya sendiri-sendiri.  
Pentingnya ibadah dalam kitab Keluaran tidaklah dapat diabaikan begitu saja. Hal ini dapat dilihat dari begitu banyak pasal dalam kitab Keluaran yang membahas perihal ibadah dengan segala pernak-perniknya. Hal yang mendominasi pembahasan tentang ibadah dalam bagian ini adalah Kemah Suci. Bagian yang memaparkan panjang lebar tentang petunjuk pendirian Kemah Suci mengajarkan bahwa bangsa Israel dididik Allah untuk beribadah sesuai dengan tata cara yang Allah tetapkan, dan bukan sesuai dengan keinginan mereka sendiri. Ibadah, dahulu juga sangat berhubungan dengan sabat karena orang-orang Israel akan berhenti dari segala aktifitas mereka dan menguduskan hari itu sebagai hari ibadah yang diberikan oleh Tuhan Allah mereka yaitu YHWH kepada mereka. Ibadah yang dilakukan bukanlah ibadah menurut kehendak manusia melainkan menurut kehendak Allah.
Dalam penulisan paper ini, penulis ingin melihat konsep tersebut berdasarkan sudut pandang teologi biblika. Dimulai dengan penelitian terhadap kata-kata yang digunakan untuk menjelaskan mengenai “ibadah”,  menjelaskan tujuan umat Israel melakukan “Ibadah”, hubungan “Ibadah” dan Sabat, hubungan “Ibadah” dengan Kemah Suci, hubungan “Ibadah” dengan YHWH, sampai kepada aplikasi bagi kehidupan masa kini.

Konsep Ibadah dalam Perjanjian Lama
Kata ibadah sebenarnya berasal dari kosa kata “äbodah” (bahasa Ibrani) atau ibadah (bahasa Arab) yang secara harafiah berarti bakti, hormat, penghormatan (homage), suatu “sikap dan aktivitas“ yang mengakui dan menghargai seseorang (atau yang ilahi).[3]  Atau dapat juga dikatakan suatu penghormatan hidup yang mencakup kesalehan (yang diatur dalam suatu tatacara), yang implikasinya nampak dalam tingkah laku dan aktivitas kehidupan sehari-hari.[4]  Jadi ibadah disini merupakan ekspresi dan sikap hidup yang penuh bakti (penyerahan diri) kepada yang ilahi, yang pengaruhnya nampak dalam tingkah laku yang benar.
Dalam kesaksian Alkitab ada beberapa kata atau ungkapan yang dipakai untuk ibadah. Kata kerja Ã¤bad (Bahasa Ibrani) berarti melayani atau mengabdi (seperti pengabdian/ pelayanan yang utuh dari seorang hamba kepada tuannya). Sedangkan kata Ã bodah (bahasa Ibrani), latria (bahasa Yunani) berarti pelayan atau bisa juga berarti pemujaan dan pemuliaan.[5] Disamping itu juga dapat dilihat kata histaaweh (proskuneo, bahasa Yunani) yang berarti sujud atau membungkuk atau meniarap dihadapan tuannya.[6]  Jadi sebenarnya ada dua kata kunci dalam pengertian ibadah itu, yaitu sikap hormat (pemuliaan) dan pelayanan (sikap hidup).
Dari pengertian di atas, menjadi jelas bahwa konsep dasar dari ibadah adalah pelayanan atau pengabdian seutuhnya dari hidup manusia kepada Allah, yang dinyatakan baik dalam bentuk penyembahan (kultus) maupun dalam tingkah laku mereka terhadap orang-orang yang ada disekitar mereka.
Pada waktu Allah memilih suatu bangsa bagi diri-Nya, Allah juga memberikan cara bagaimana bangsa itu dapat bertemu dengan Tuhan, jadi Dia memberikan ibadah tabernakel di mana Israel dapat menghadap Allah yang Maha Kudus. Di tempat ini Tuhan akan bertemu dengan Israel (Kel. 25:22; 29:42, 43; 30:6, 36).[7]
Kemudian, ibadah itu berkembang menjadi ibadah umat. Musa adalah seorang tokoh yang dianggap sebagai peletak dasar dari ibadah umat yang diorganisir, dan yang menjadikan Yahwe sebagai alamat ibadah satu-satunya. Ibadah umat diorganisir di dalam Kemah Pertemuan, dan upacaranya dipandang sebagai “pelayanan suci” dari pihak umat untuk memuji Tuhan.[8]  Pada perkembangan selanjutnya, setelah Kemah Pertemuan, lahirlah Bait Suci dan Sinagoge sebagai tempat ibadah bagi Israel. Perkembangan ini didasari oleh pemahaman bahwa ibadah adalah merupakan faktor penting dalam kehidupan Nasional Yahudi. Bait Suci dihancurkan oleh Babel, dibentuk kebaktian Sinagoge karena pelaksanaan ibadah tetap dirasakan sebagai kebutuhan penting.[9]
Disamping tempat ibadah, orang Yahudi juga memiliki kalender tahunan untuk upacara agamawi. Diantaranya yang amat penting adalah : Hari Raya Paskah (Kel. 12:23-27), Hari Raya Perdamaian (Im. 16 : 29 – 34), Hari Raya Pentakosta (bd. Kis.2), Hari Raya Pondok Daun, dan Hari Raya Roti Tidak Beragi (Kel.12:14-20).[10]
Pemimpin ibadah di Bait Suci dan Sinagoge adalah para Imam. Mereka adalah keturunan Lewi yang telah dikhususkan untuk tugas pelayanan ibadah. Para imam memimpin ibadah umat pada setiap hari Sabat dan pada Hari Raya agama lainnya. Ibadah di Sinagoge terdiri dari : Shema, doa, pembacaan Kitab Suci dan penjelasannya.[11]
Ibadah juga berkaitan dengan kewajiban-kewajiban agama, yakni perintah-perintah Tuhan (Ul.11:8-11). Jadi, pada hakekatnya ibadah bukanlah hanya merupakan pelaksanaan upacara keagamaan di tempat-tempat ibadah, akan tetapi adalah mencakup pelaksanaan kewajiban agama, seperti : sunat, puasa, pemeliharaan Sabat, taurat dan doa. Dengan demikian, ibadah juga harus mengandung makna bagi hidup susila. [12]
Dalam Perjanjian Lama ada beberapa contoh ibadah pribadi (Kej.24:26; kel. 33:9-34:8). Tapi tekanannya adalah pada ibadat dalam jemaat (Mzm 42:4; I Taw 29:20). Dalam kemah pertemuan dan dalam Bait Suci tata upacara ibadah adalah yang utama. Terlepas dari korban-korban harian setiap pagi atau sore, perayaan Paskah dan penghormatan Hari Pendamaian merupakan hal penting dalam kalender tahunan Yahudi. Upacara agamawi berupa pencurahan darah, pembakaran kemenyan, penyampaian berkat imamat dan lain lain, cenderung menekankan segi upacaranya sehingga mengurangi segi rohaniah ibadahnya, dan bahkan sering memperlihatkan pertentangan antara kedua sikap itu (Mzm 40:6, 50:7-15, Mikha 6:6-8). Tapi banyak ibadah di Israel yang dapat mengikuti ibadah umum misalnya di Mazmur 93, 95-100) dan doa –doa bersama misalnya Mazmur 60, 79, 80, dan memanfaatkanya untuk mengungkapkan kasih dan syukur mereka kepada Allah (Ul 11:13) dalam tindakan ibadah rohani batiniah yang sungguh-sungguh.
Ekspresi ibadah dalam Perjanjian Lama dapat ditemukan dalam kisah pemanggilan Abraham sebagai Bapak bangsa-bangsa. Panggilan Abraham disertai janji-janji berkat Allah seperti kemasyuran, pengaruh, keturunan dan pemilik tanah. Sebagai respons Abraham terhadap janji-janji ini, Abraham menyembah Allah dengan membuat mezbah (Kej. 12:7-8, 13:18). Dan mempersembahkan korban (Kej. 15:1-11, 22:13-14). Kemudian juga ketika Nuh keluar dari bahtera setelah Air Bah tindakan pertamanya adalah membangun mezbah dan beribadah kepada Tuhan (Kej. 8:20) ini merupakan catatan pertama di Perjanjian Lama tentang ibadah kepada Tuhan melalui korban penumpahan darah di atas mezbah. Persembahan korban bakaran kemudian dinyatakan sebagai korban persembahan (Im. 1:1-7).
Selanjutnya dalam kisah keluarnya bangsa Israel dari Mesir, ibadah menjadi dasar dan sebagai forshadow atau bayangan untuk semua bentuk ibadah masa depan. Allah menyelamatkan umat-Nya dari perbudakan adalah peristiwa penting dalam Perjanjian Lama. Keluaran telah memberikan kepada Israel beberapa jalan untuk beribadah kepada Allah. Ekspresi utama termasuk mempersembahkan korban binatang pada Paskah (Kel.12:1-28), mempersembahkan semua yang sulung atau pertama lahir kepada Tuhan menjadi milik Tuhan (Kel.13:1-2), dan menyanyikan puji-pujian dengan sorak sorai dan penuh kemenangan yang dipimpin oleh Musa dan Miriam (Kel.15:1-21).
Di Gunung Sinai Allah menentukan tiga hari raya yang harus diadakan dalam rangka mempersembahkan ibadah kepada Allah setiap tahun. Pertama, hari raya roti tidak beragi, kedua, hari raya menuai dan ketiga, hari raya pengumpulan hasil (Kel.23:14-19). Perintah ini telah tertanam di dalam kesadaran umat Tuhan bahwa ibadah melibatkan pengertian waktu yang kudus.
Tujuan Umat Israel melakukan Ibadah
Allah menciptakan manusia dengan tujuan utama yaitu agar manusia memuliakan dan menghormatiNya dalam kehidupan sehari-hari “...Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan” (Yesaya 43:7). Allah akan merasa dipermuliakan dan dihormati apabila manusia itu melakukan Firman Allah dalam segala aspek kehidupan, baik itu dalam kehidupan horizontalnya (antar sesama manusia) maupun vertikalnya (antara manusia dengan Allah). Manusia sebagai mahluk ciptaan Allah harus memeteraikan di dalam hatinya bahwa kehidupan yang dijalankan bukan untuk kepentingan dirinya sendiri melainkan juga demi kepentingan Allah. Hal inilah yang dimaksudkan Yeremia ketika dia berkata, “Aku tahu, ya, Tuhan bahwa manusia tidak berkuasa untuk menentukan jalannya...” (Yeremia 10:23). Hal inilah juga yang dimaksudkan oleh Paulus ketika dia mengatakan pernyataan berikut ini kepada jemaat di Galatia, “...aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah...” (Galatia 2:21). [13]
Pada zaman bapa-bapa, tidak ada waktu dan tempat yang khusus untuk melakukan ibadah. Namun walaupun demikian, Allah tetap memberikan instruksi langsung kepada kepala-kepala keluarga tentang perlengkapan (elemen) apa yang harus mereka perlukan dalam ibadah mereka kepada Allah. Sebagai contoh, Habel mempersembahkan anak sulung dari kambing dombanya (Kejadian 4:4), Nuh mempersembahkan korban bagi Tuhan yang terdiri dari segala binatang dan segala burung yang tidak haram (Kejadian 8:20). Selanjutnya Abraham mempersembahkan korban bakaran kepada Allah yang terdiri dari lembu, kambing, domba, burung tekukur dan burung merpati (Kejadian 15:7-11). Mereka dikenal sebagai tokoh-tokoh iman dalam kitab Ibrani pasal 11. Di sisi lain Kain yang hidup pada zaman yang sama (zaman Patriakh), dia mencoba beribadah dengan cara dan keinginannya sendiri. Secara pribadi dia merasa puas karena dia telah melakukan sesuai dengan seleranya, tetapi tidak demikian dengan Allah, Dia tidak berkenan dengan apa yang dilakukan Kain, karena tidak sesuai dengan perintah-Nya (Kejadian 4:6). Allah mengerti dan mempunyai maksud dengan apa yang dikatakanNya. Dari korban persembahan Habel, Nuh dan Abraham yang bertentangan dengan apa yang dipersembahkan Kain, dapat disimpulkan bahwa Allah telah menentukan segala sesuatu yang berhubungan dengan ibadah yang harus dituruti oleh manusia.[14]
Pada zaman Musa Allah lebih banyak lagi memberikan ketetapan-ketetapan yang berhubungan dengan ibadah bangsa Israel. Dalam hal ini, Musa lebih khusus lagi menyatakan waktu, frekwensi (berapa kali dilakukan), elemen, pelaksana, tujuan dan tempat ibadah yang keseluruhannya harus dilakukan sesuai dengan ketetapan Allah. Sebagai contoh; (1) Allah telah menetapkan bahwa hari Sabat (hari ketujuh) adalah hari untuk Tuhan (hari untuk ibadah) dan tidak boleh mengadakan perjalanan jauh atau bekerja, bahkan memasakpun tidak diperbolehkan (Keluaran 35:1-3). Siapapun yang melanggar ketetapan ini dia akan dihukum mati. Dalam Bilangan 15:32-36 diberikan contoh seseorang yang dilontari batu sampai mati (dirajam) karena kedapatan memungut kayu api (bekerja) pada hari Sabat; (2) Setelah kerajaan Israel terbagi menjadi dua bagian, Yerobeam terpilih menjadi raja untuk Israel bagian Utara dan Rehabeam (putra Salomo) meneruskan dinasti ayahnya. Yerobeam merasa takut, dia berpikir bahwa bangsa Israel yang pergi beribadah ke Yerusalem tidak akan kembali lagi ke Utara, maka dia menetapkan beberapa hal berikut ini yang merupakan pelanggaran akan Firman Allah: (1) Menetapkan Dan & Betel sebagai tempat untuk beribadah; (2) Mengangkat nabi yang bukan dari suku Lewi; (3) Mempersembahkan korban yang bercacat; (4) Merubah objek ibadah dan (5) Menetapkan suatu hari raya (1 Raja-raja 12-13) silahkan membacanya. Sebagai konsekuensi perbuatannya dia akan dikutuk Allah jika dia tidak bertobat.[15]
Jadi sangat jelas bahwa manusia tidak boleh melawan Allah dalam ketetapan-Nya. Di bawah hukum Perjanjian Baru (Hukum Kristus), Allah memberikan hukum yang sempurna sebagai pedoman (penuntun) dalam ibadah. Yakobus menggambarkan hukum Kristus itu suatu hukum yang sempurna (Yakobus 1:25). Untuk menjelaskan kesempurnaan hukum itu, Yohanes mengatakan bahwa hukum Allah itu tidak boleh ditambah ataupun dikurangi (Wahyu 22:18-19). Perjanjian Baru yaitu hukum yang sempurna yang tidak boleh ditambah maupun dikurang itu, dengan jelas menyatakan bagaimana seharusnya manusia melakukan ibadah kepada Allah. Hal itu dinyatakan oleh Yesus ketika Dia berbincang-bincang dengan perempuan Samaria. Yesus berkata bahwa “Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran” (Yohanes 4:24). Dalam hal ini Yesus mengajarkan kepada perempuan Samaria itu tentang dua syarat ibadah yang benar. Yang pertama adalah ibadah harus dalam roh. Sanbalat orang Horon (nama salah satu kota di Samaria) yang menghalangi Nehemia untuk mendirikan tembok Yerusalem (Nehemia 2-4) telah menetapkan Gerizim sebagai tempat untuk beribadah kepada dewa (berhala objek yang nyata) dan membangun kuil disana. Demikianlah orang Samaria memulai ibadah di atas gunung itu, [16]  Yesus mengetahui bahwa sistem ibadah yang demikian itu salah sehingga Dia mengarahkan sistem ibadah yang baru yang bertitik tolak dari karakter Allah itu sendiri. Karena Allah itu adalah Roh adanya, maka manusia tidak boleh menggantikan Allah itu dalam bentuk objek yang dapat diketahui melalui minimalnya salah satu dari lima jenis panca indra manusia. Demikian juga karena Allah itu adalah Roh adanya maka Dia bersifat omnipresen (hadir di segala tempat), sehingga orang Samaria yang biasanya beribadah di atas gunung itu dapat beribadah dimana saja bila waktunya sudah tiba kelak. Namun kira-kira tahun 300-an sesudah Masehi orang yang menyebutkan dirinya orang Kristen telah memasukkan patung-patung orang-orang kudus ke dalam tempat ibadah untuk disembah (Eternal Kingdom). [17]
 Hubungan Ibadah dan Kemah Suci di Perjanjian Lama
Ibadah adalah penyembahan kepada Tuhan, penyembahan bukanlah masalah pilihan. Landasan penyembahan yang benar adalah penebusan. Tujuan penebusan Allah adalah untuk menghasilkan penyembah-penyembah. Alasan utama manusia diselamatkan bukan supaya jangan masuk neraka, memang itu adalah salah satu anugerah namun bukan itulah tujuan utama Allah menciptakan manusia. Tujuan utama manusia ditebus bahkan bukan untuk menikmati berbagi berkat Allah yang abadi, namun sesungguhnya maksud terutama dalam penebusan adalah menyembah Allah agar Allah dapat dimuliakan melalui kehidupan manusia.[18]
Hal ini makin menggaris bawahi betapa eratnya hubungan antara perjanjian dengan ibadah. Umat yang memelihara perjanjian dengan Allah adalah umat yang beribadah. Begitu juga umat yang beribadah haruslah merupakan umat yang memelihara perjanjiannya dengan Allah. Kehidupan umat beragama tidak bisa dipisahkan dari ibadah. Ibadah bukan hanya sebagai suatu ritus keagamaan tetapi juga merupakan wujud respon manusia sebagai ciptaan kepada Allah Sang Pencipta. Umat Kristen memaknai ibadah sebagai tanggapan manusia atas anugerah keselamatan yang telah diberikan oleh Allah melalui Yesus Kristus. Namun demikian ibadah bukan hanya berkaitan dengan relasi manusia dengan Allah, tetapi juga berkaitan dengan relasi manusia dengan sesamanya atau bagi dunia. Kesadaran dan kesediaan manusia untuk menjumpai Allah dalam ibadah berarti juga kesadaran dan kesediaan manusia untuk ambil bagian dalam misi Allah bagi dunia ini.
Kemah Suci mempunyai peranan yang sangat penting dalam ibadah bangsa Israel. Kemah Suci tidak hanya merupakan suatu tempat ibadah bagi mereka, tetapi juga merupakan bukti kehadiran Allah dalam ibadah dan kehidupan mereka. Pemilihan dan penggunaan kemah Suci sebagai tempat yang khusus untuk beribadah mempunyai makna yang penting, seorang penulis buku menuliskan bahwa: “The use of a sanctuary, a specific place for worshiping, for Israel and for any religious community, is thus not unimportant, as if “under any green tree” would do. To summarize its importances: (a) a sanctuary brings order to the worship of God. An undifferentiated proliferation of worship sites leads to a lack of discipline and focus, which may issue an “anything goes” attitude, a sure recipe for idolatry. (b) A sanctuary provides a tangiable aspect for the divine presence. In their humanity, God’s people have a need for concreteness in their relationship with God, a purely spiritual worship is incomplete and left unrelated to body and life. God’s condendscension interrelates with people in the entirety of their lives. (c) A sanctuary provides a point of assurance of the divine presence and a point of stability in the midst of the unstable wilderness. God promises to be present in a given place (29:45); the people thereby may have confidence that they can experience the presence of God there...”[19]

Kesimpulan
Ibadah adalah pelayananan dan persembahan umat kepada Tuhan. Apa yang harus dipersembahkan? Tidak lain adalah tubuh, dalam arti seluruh pikiran, perkataan, dan perbuatan, pokoknya seluruh kemampuan dan kegiatan kita harus dipersembahkan kepada Tuhan. Ini berarti penyerahan secara total akan hidup kita. Oleh karena itulah persembahan itu disebut juga sebagai persembahan yang hidup. Dan karena tubuh kita dipersembahkan khusus menjadi milik Tuhan, maka persembahan itu disebut juga kudus.
Ibadah adalah persekutuan antara umat dengan Tuhan. Yang bersekutu di sini bukan hanya jasmani tetapi juga pikiran, hati, dan jiwa kepada Tuhan. Ibadah tidak terbatas pada puji-pujian bersama dan pelayanan Firman, tetapi seharusnya diteruskan dan dijadikan sikap seluruh hidup. Ibadah harus menjadi pola hidup, sehingga terwujudlah apa yang dikatakan dalam Kol.3:17 “segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan dan perbuatan, lakukanlah itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita”.
Tidak dapat disangkal bahwa ibadah memegang peranan sentral dalam semua agama-agama di dunia ini. Tanpa ibadah, suatu agama akan kehilangan hakekatnya. Melalui ibadah manusia mengadakan hubungan vertikal dengan yang ilahi dan mewujudkan nilai-nilai rohaninya dalam kehidupan bersama (horisontal). Jadi idealnya, ibadah menjadi ciri dimana manusia hidup dalam relasi yang benar dengan Allah dan dengan sesamanya. Ibadah selalu berfokus tunggal yaitu ketika Allah bertindak menyatakan kasih-Nya kepada kita dan Ia jugalah yang mendorong tanggapan kita atas semua pernyataan kasih-Nya. Ibadah adalah jawaban manusia terhadap panggilan Allah, terhadap tindakan-tindakan-Nya yang penuh kuasa yang berpuncak pada tindakan pendamaian dalam Kristus. Ibadah adalah kegiatan puji-pujian dalam penyembahan yang mensyukuri kasih Allah yang merangkul kita dan kebaikan kasih-Nya yang menebus kita dalam Kristus, Tuhan kita.
Ibadah adalah suatu bakti” kita kepada sang pencipta dan persembahan hidup kita secara keseluruhan kepada Allah. Banyak hal yang bisa kita contohi dari kehidupan orang-orang percaya yang ada dalam zaman perjanjian lama khususnya dalam hal cara mereka beribadah kepada Tuhan. Yang sangat ditekankan dalam perjanjian lama yaitu fokus kita kepada Tuhan dan cara hidup kita dengan sesama yang mencerminkan bahwa kita ini adalah umat Tuhan yang hidup dibawah aturan Tuhan dan melaksanakan apa yang Tuhan perintahkan kepada kita, dan juga menjadi terang bagi orang-orang yang ada disekitar kita. Dengan cara seperti ini, maka kehidupan gereja masa kini akan menjadi berkembang baik secara kuantitas maupun kualitas.
Kehidupan umat beragama tidak bisa dipisahkan dari ibadah. Ibadah bukan hanya sebagai suatu ritus keagamaan tetapi juga merupakan wujud respon manusia sebagai ciptaan kepada Allah Sang Pencipta. Umat Kristen memaknai ibadah sebagai tanggapan manusia atas anugerah keselamatan yang telah diberikan oleh Allah melalui Yesus Kristus. Namun demikian ibadah bukan hanya berkaitan dengan relasi manusia dengan Allah, tetapi juga berkaitan dengan relasi manusia dengan sesamanya atau bagi dunia. Kesadaran dan kesediaan manusia untuk menjumpai Allah dalam ibadah berarti juga kesadaran dan kesediaan manusia untuk ambil bagian dalam misi Allah bagi dunia ini.
Allah maha bijaksana didalam segala ketetapanNya. Dia tidak memerlukan masukan maupun saran dari manusia. Dia telah merancang segala sesuatunya sesuai dengan yang dikehendakiNya. Tidak perlu ada komentar dari manusia, terkecuali merendahkan hati dan mengikuti perintah-perintahNya, hanya dengan demikianlah ibadah yang dilakukan manusia diperkenankan olehNya.

Aplikasi dan Relevansi bagi kehidupan masa kini
1.      Ibadah Israel perlu dipelajari oleh karena melaluinya seseorang dapat belajar dan menemukan “the most basic structural elements” dari ibadah umat Allah, yang kemudian dikembangkan dan diteruskan bagi umat Allah sejak dulu hingga masa kini.
2.      ibadah yang sejati lahir dari orang yang telah mengalami karya pembebasan Allah dan mempunyai “komitmen” kepada Allah. Di tengah-tengah gereja masa kini yang sangat menekankan ibadah, gereja tidak boleh lupa untuk menekankan karya pembebasan Allah dan perjanjian antara Allah dengan umat-Nya. Karya pembebasan Allah di dalam Yesus Kristus perlu senantiasa diberitakan dan umat juga diajar untuk sungguh memberikan seluruh hidup mereka kepada Allah. Tanpa kedua hal ini, umat tidak dapat beribadah dengan benar. Tanpa kedua hal ini, ibadah mereka bukanlah suatu ibadah yang sejati.
3.      Ibadah yang sejati dilakukan sesuai dengan tata cara atau kehendak Allah dan bukan oleh keinginan umat sendiri. Di tengah-tengah upaya gereja untuk menata ibadah yang sesuai dengan selera masa kini, gereja senantiasa perlu ingat bahwa mereka tidak boleh menggantikan prinsip ibadah yang menurut kehendak Allah dengan ibadah yang menurut selera umat. Tujuan utama ibadah adalah untuk Allah dan bukanlah untuk umat. Ketika suatu ibadah hanya berfokus pada kehendak umat, ibadah itu tidak ada bedanya seperti penyembahan patung anak lembu emas, yang mana Allah murka terhadapnya.
4.       Ibadah bukan hanya suatu aktivitas dari umat untuk Allah, tetapi ibadah harus juga merupakan sarana dan aktivitas di mana Allah mengajar umat-Nya. Allah berkehendak mengajar umat-Nya melalui ibadah. Gereja masa kini tidak boleh melupakan aspek pengajaran melalui ibadah dan tata ibadah. Melalui ibadah dengan segala tata caranya, umat belajar mengenal Allah, keberadaan dan kehendak-Nya.
5.      Pemilihan dan penggunaan kemah Suci sebagai tempat khusus ibadah kepada Allah, perlu menjadi perhatian umat Tuhan masa kini. Oleh karena di Indonesia sulit mendapat izin membangun gereja, maka pada masa kini begitu marak ibadah-ibadah Minggu yang diadakan di tempat-tempat umum, seperti hotel, restoran, dan lain lain. Yang perlu menjadi sesuatu yang perlu direnungkan dan dipikirkan mendalam, yaitu tempat ibadah seperti itu tidakkah mengurangi suasana kekhususan dan kekhusukan dalam beribadah? Walaupun di pihak lain perlu disadari bahwa kehadiran Allah tidak terikat oleh adanya gedung gereja atau suatu tempat ibadah yang khusus.
6.      Kemuliaan dan berkat Allah hanyalah bagi mereka yang beribadah sesuai dengan kehendak Allah dan bukan menurut selera sendiri. Bagi gereja yang rindu mengalami kemuliaan Allah, hal utama yang perlu diperhatikan adalah bukan mencari pola ibadah yang sesuai dengan keinginan umat, tetapi beribadah menurut kehendak Allah.













Daftar Pustaka


Barth, C. Theologia Perjanjian Lama 4. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009.
Basden, Paul. The Worship Maze, Downers Grove. Illionis Inter-Varsity Press, 1999.
Cole, Allan. Exodus An Introduction and Old Testament Comentaries. Illinois: Inter Varsity Press, 1973.

Cronbach, A. Worship in Old Testament, dalam The Interpreter’s Dictionary of the Bible. Editor by G.A. Buttrick, R-2. Nashville, Abingdon Press, 1982

Dyrness, William. Tema-tema dalam Teologi Perjanjian Lama. Malang: Gandum Mas, 2009.
Enns, Paul. The Moody Handbook Of Theology: Buku Pegangan Teologi. Malang: SAAT, 2006.

Fretheim, Terence E. Exodus – Interpretation. Louisville: John Knox Press, 1991.
Hamilton, Victor P. Hand Book On The Pentateuch (Exodus). Michigan : Baker Book House Grand Rapids,1982.

Hasel, Gerhard F. Teologi Perjanjian Lama: Masalah-masalah Pokok dalam Perdebatan saat ini. Malang: Gandum Mas, 1992.

Jones, Richard J. Making Worship of the Old Testament. Michigan: Baker Books, 2004.  
MacArtur, John.  Preoritas Utama dalam Penyembahan. Bandung: Kalam Hidup, 1983.
Motyer, Alec. The Message of Exodus. Inter-Varsity Press, 1988.
Redaksi, Tim. KBBI. Jakarta: Balai Pustaka, 2001.
Ringgren, G. Johannes Botterweck. Helmer Theological Dictionary of the Old Testament, vol 1. Michigan: William B. Eerdmand Publishing Company Grand Rapids, 1997.

Salim, Peter. Salim’s Ninth Collegiate English-Indonesia Dictionary. Jakarta: Modern English Perss, 2000.

Schultz,  Samuel J. the Old Testament Speaks. Wheaton: Illionis Publishing, 1960.
Stedman, Ray C. Petualangan Menjelajari Perjanjian Lama Dari Tulisan Asli. Jakarta: Duta Harapan Dunia, 2010.

Tenney, Merrill C. The Zondervan Pictoral Bible Dictionary. USA: Zondervan Publising House, 1964.

White, James F. Pengantar Ibadah Kristen. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2005.



[1] Tim redaksi, KBBI (Jakarta: Balai Pustaka, 2001), 415.

[2] Peter Salim, Salim’s Ninth Collegiate English-Indonesia Dictionary (Jakarta: Modern English Perss, 2000), 1712.
[3] G. Johannes Botterweck Helmer Ringgren, Theological Dictionary of the Old Testament, vol 1 (Michigan: William B. Eerdmand Publishing Company Grand Rapids, 1997), 24

[4] Ray C Stedman, Petualangan Menjelajari Perjanjian Lama Dari Tulisan Asli (Jakarta: Duta Harapan Dunia, 2010), 87.
[5] Samuel J Schultz,  the Old Testament Speaks (Wheaton: Illionis Publishing, 1960), 16.

[6] Allan Cole, Exodus An Introduction and Old Testament Comentaries (Illinois: Inter Varsity Press, 1973), 66.

[7] Alec Motyer, The Message of Exodus (Inter-Varsity Press, 1988),23.

[8] Victor P Hamilton, Hand Book On The Pentateuch (Exodus) (Michigan : Baker Book House Grand Rapids,1982),6.
[9] A. Cronbach, Worship in Old Testament, dalam The Interpreter’s Dictionary of the Bible. Editor by G.A. Buttrick, R-2, (Nashville, Abingdon Press, 1982), 879. 

[10] Paul Basden, The Worship Maze, Downers Grove (Illionis Inter-Varsity Press, 1999), 17.

[11] Paul Enns, The Moody Handbook Of Theology: Buku Pegangan Teologi (Malang: SAAT, 2006), 54.

[12] James F. White, Pengantar Ibadah Kristen (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2005), 9.
[13] C. Barth, Theologia Perjanjian Lama 4 (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009), 25.
[14] William Dyrness, Tema-tema dalam Teologi Perjanjian Lama (Malang: Gandum Mas, 2009), 123.
[15] Gerhard F. Hasel, Teologi Perjanjian Lama: Masalah-masalah Pokok dalam Perdebatan saat ini (Malang: Gandum Mas, 1992), 147.

[16] Merrill C.Tenney, The Zondervan Pictoral Bible Dictionary (USA: Zondervan Publising House, 1964), 747.
[17] Richard J. Jones, Making Worship of the Old Testament (Michigan: Baker Books, 2004), 55.
               
[18] John MacArtur, Preoritas Utama dalam Penyembahan (Bandung: Kalam Hidup, 1983), 37
[19] Terence E. Fretheim, Exodus - Interpretation (Louisville: John Knox Press, 1991), 77.